Oleh: Emmanuel Ariananto Waluyo Adi
KECERDASAN artifisial atau ‘artificial intelligence’ (AI) sekarang bukan lagi teknologi yang hanya dipakai perusahaan besar. Di Indonesia, orang sudah menggunakannya untuk hal sederhana: bertanya kepada ChatGPT atau Gemini, membuat dan memperbaiki tulisan, menerjemahkan, mencari informasi, mengedit wajah dan foto, membuat gambar dari teks, sampai mendapatkan rekomendasi di aplikasi.
Penggunaannya sudah besar. Survei Katadata Insight Center menemukan 64,7 persen responden Indonesia telah menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mencari informasi, berbelanja, serta mengedit foto dan video. Dalam laporan Google, pengguna Indonesia bahkan membuat hampir 9 juta gambar AI setiap hari.
Di dunia kerja, angkanya juga mulai tinggi. Survei PwC terhadap pekerja Indonesia menunjukkan 69 persen responden telah menggunakan AI untuk pekerjaan dalam 12 bulan terakhir. Pengguna hariannya mencapai 16 persen. Di antara pengguna harian tersebut, 96 persen merasa produktivitas mereka meningkat.
Artinya, di zaman sekarang, tidak memakai AI juga punya konsekuensi. Orang yang mengerjakan semuanya secara manual bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk mencari informasi, membuat dokumen, mengolah data, atau menghasilkan gambar dibanding orang yang memakai AI sebagai alat bantu. Dalam pekerjaan yang mengejar kecepatan, selisih waktu itu bisa berarti lebih sedikit pekerjaan yang selesai.
Tetapi AI bukan mesin yang selalu benar. Ia bisa salah membaca data, memberikan informasi keliru, bahkan membuat sumber yang sebenarnya tidak ada. Karena itu, masalahnya bukan apakah manusia harus memakai AI atau tidak, tetapi apakah manusia cukup paham untuk memakai, memeriksa, dan mengoreksi hasilnya.
Perkembangannya juga sangat cepat. Stanford AI Index 2026 mencatat generative AI mencapai sekitar 53 persen adopsi populasi hanya dalam tiga tahun. Di dunia kerja, 88 persen organisasi yang disurvei telah menggunakan AI pada sedikitnya satu fungsi bisnis.
Indonesia juga sudah memasukkan transformasi digital, teknologi, inovasi, dan peningkatan produktivitas dalam UU Nomor 59 Tahun 2024 tentang RPJPN 2025–2045, Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029, serta Perpres Nomor 117 Tahun 2025 tentang RKP 2026.
Jadi, persoalannya bukan lagi apakah AI akan masuk dunia kerja. Persoalannya adalah seberapa besar AI membantu manusia dan apa yang terjadi jika manusia terlalu bergantung kepadanya.
AI Memang Bisa Membuat Pekerjaan Lebih Cepat
Penelitian Shakked Noy dan Whitney Zhang terhadap 453 pekerja menemukan bahwa penggunaan ChatGPT membuat pekerjaan menulis selesai sekitar 40 persen lebih cepat, dengan kualitas meningkat sekitar 18 persen.
Penelitian lain terhadap 5.179 pekerja customer service menemukan produktivitas meningkat sekitar 14 persen. Stanford juga mencatat peningkatan produktivitas sekitar 14 sampai 15 persen pada customer support, 26 persen pada software development, dan hingga 50 persen pada output pemasaran. Namun, manfaatnya paling besar pada pekerjaan yang terstruktur dan mudah diukur, sedangkan pekerjaan yang membutuhkan penalaran lebih dalam mendapat manfaat yang lebih kecil.
Dengan kata lain, AI memang bisa membuat manusia bekerja lebih cepat. Tetapi cepat belum tentu berarti lebih baik dalam semua keadaan.
AI Tidak Selalu Menghapus Profesi, tetapi Mengubah Pekerjaan
ILO memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap generative AI. Namun, ILO menilai sebagian besar pekerjaan lebih mungkin berubah daripada langsung hilang karena manusia masih dibutuhkan untuk banyak tugas.
Contohnya legal analyst. AI dapat membantu mencari peraturan, merangkum putusan, atau membuat draf awal. Tetapi manusia tetap harus memastikan sumbernya benar, pasalnya masih berlaku, konteks hukumnya tepat, dan kesimpulannya dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah baru justru dapat muncul pada pekerja pemula. Stanford mencatat pekerjaan software developer usia 22 sampai 25 tahun di Amerika Serikat turun hampir 20 persen sejak 2024. Data ini tidak membuktikan AI sebagai satu-satunya penyebab, tetapi menunjukkan bahwa perubahan mulai terlihat pada kelompok pekerja yang selama ini menjadi pintu masuk ke dunia kerja.
Kalau pekerjaan sederhana semakin banyak dikerjakan AI, muncul pertanyaan baru: bagaimana seseorang memperoleh pengalaman pertama jika pekerjaan pemula semakin sedikit?
AI berdampak ke Isu Lingkungan
AI terlihat seperti perangkat lunak, tetapi di belakangnya ada pusat data berisi server dan chip yang membutuhkan listrik dan pendinginan.
IEA mencatat pusat data menggunakan sekitar 415 TWh listrik pada 2024 atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030. AI menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Masalahnya bukan hanya listrik. Server menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendingin dan sebagian fasilitas menggunakan air. Karena itu, perkembangan AI juga menjadi persoalan energi, air, dan emisi, bukan hanya persoalan software.
Kebutuhan pendinginan bahkan pernah mendorong eksperimen data center bawah laut. Microsoft melalui Project Natick menguji penggunaan laut sebagai media pembuangan panas. Ini bukan berarti prosesor mengurangi debit laut. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kebutuhan listrik, air, panas, dan infrastruktur AI dikelola tanpa memindahkan masalah lingkungan dari satu tempat ke tempat lain.
Persaingan AI antar-Negara
Masalah AI kemudian tidak hanya menyangkut pekerjaan dan lingkungan, tetapi juga persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
Sejumlah tokoh industri teknologi pernah menyerukan kehati-hatian terhadap perkembangan AI yang terlalu cepat, termasuk Elon Musk dan sejumlah pemimpin perusahaan AI. Namun, perlambatan juga memiliki konsekuensi jika negara lain terus mengembangkan teknologinya.
Stanford mencatat persaingan AS dan China dalam kemampuan model AI semakin ketat. Model dari kedua negara beberapa kali bergantian memimpin sejak 2025, sementara China unggul dalam jumlah publikasi, sitasi, paten AI, dan pemasangan robot industri.
Artinya, AI bukan hanya perlombaan membuat chatbot yang lebih pintar. Negara juga berlomba membangun chip, pusat data, listrik, talenta, dan infrastruktur yang diperlukan untuk menjalankan AI.
Indonesia Mengatur Penggunaan AI
Indonesia sudah memiliki Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang memuat prinsip kemanusiaan, keamanan, transparansi, dan akuntabilitas.
Di bidang pendidikan, pemerintah juga menerbitkan Kepmen Komdigi Nomor 117 Tahun 2026 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial.
Arahnya bukan sekadar menggunakan AI sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan manusia tetap memahami, memeriksa, dan bertanggung jawab atas penggunaan teknologi tersebut.
Pada akhirnya, AI memang dapat membuat pekerjaan lebih cepat. Data menunjukkan manfaat produktivitas yang nyata pada sejumlah pekerjaan. Tetapi manfaat itu tidak sama untuk semua orang.
AI juga membutuhkan listrik, air, chip, pusat data, dan infrastruktur dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, AI dapat mengubah pasar kerja, terutama bagi pekerja pemula, serta memengaruhi cara manusia belajar dan berpikir.
Karena itu, pertanyaan tentang AI bukan hanya apakah manusia akan bekerja lebih cepat.
Pertanyaannya juga apakah manusia masih memahami pekerjaan yang dilakukan AI, mampu memeriksa hasilnya, tetap bertanggung jawab atas keputusan, dan menggunakan waktu yang dihemat untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.
Kesimpulan: AI Bisa Membantu Berpikir, tetapi Juga Bisa Membuat Orang Berhenti Berpikir
AI sekarang bukan sekadar mesin pencari. AI dapat membuat jawaban, menyusun alasan, membuat kode, membandingkan pilihan, bahkan memberikan kesimpulan.
Penelitian terhadap 319 pekerja dan 936 contoh penggunaan AI menemukan bahwa semakin tinggi kepercayaan seseorang kepada AI, semakin rendah usaha berpikir kritis yang mereka lakukan dalam tugas yang dibantu AI. Namun, penggunaan AI juga mengubah bentuk berpikir kritis menjadi lebih banyak melakukan verifikasi, menggabungkan jawaban, dan mengawasi hasil AI.
Dalam pendidikan, AI dapat membantu siswa memahami materi, meminta contoh, dan mendapatkan umpan balik. Tetapi AI juga bisa digunakan untuk mengerjakan seluruh tugas lalu hasilnya langsung disalin. Masalahnya, kalau setiap bingung langsung tanya AI, otak juga bisa makin jarang diajak kerja keras. Studi terhadap 319 pekerja menemukan bahwa semakin tinggi kepercayaan kepada AI, semakin rendah usaha berpikir kritis yang mereka lakukan. Studi EEG lain pada pengguna LLM juga menemukan aktivitas koneksi otak lebih rendah saat tugas menulis diserahkan kepada AI.
Namun, penelitian terbaru mulai menemukan kaitan penggunaan chatbot yang berlebihan dengan ketergantungan emosional dan sejumlah masalah kesehatan mental. Indonesia tidak perlu memperlambat AI, tetapi harus mempercepat kemampuan manusianya untuk menggunakan, memeriksa, mengatur, dan mengendalikan AI agar teknologi ini meningkatkan produktivitas tanpa membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir, pekerjaan, dan tanggung jawab. (***)

